Tapi matamu, mata angin tenggara
Hanya mau dan mampu berkata
Pada sebuah cerita yang melemahkan getar dada
Tapi matamu, mata jendela taman kanak-kanak
Yang diayunannya kulihat awan berarak
Sementara hidupku padamu telah kalah telak
Tapi matamu, mata yang indah.
Jujur saja. Aku bisa lebih hilang lagi didalamnya.
Sebab padanya, hidup bertanya: "Akankah matamu buat ku saja, meski ku lemparkan perpisahan pada bait kata?"
Hanya mau dan mampu berkata
Pada sebuah cerita yang melemahkan getar dada
Tapi matamu, mata jendela taman kanak-kanak
Yang diayunannya kulihat awan berarak
Sementara hidupku padamu telah kalah telak
Tapi matamu, mata yang indah.
Jujur saja. Aku bisa lebih hilang lagi didalamnya.
Sebab padanya, hidup bertanya: "Akankah matamu buat ku saja, meski ku lemparkan perpisahan pada bait kata?"
