Kamis, 01 Oktober 2015

0 Untuk Seseorang Bermata Indah Yang Kutemui Di Dua Hari Lalu

Tapi matamu, mata angin tenggara
Hanya mau dan mampu berkata
Pada sebuah cerita yang melemahkan getar dada

Tapi matamu, mata jendela taman kanak-kanak
Yang diayunannya kulihat awan berarak
Sementara hidupku padamu telah kalah telak

Tapi matamu, mata yang indah.
Jujur saja. Aku bisa lebih hilang lagi didalamnya.
Sebab padanya, hidup bertanya: "Akankah matamu buat ku saja, meski ku lemparkan perpisahan pada bait kata?"

0 Nama Dalam Sajak

Dalam cerita ini, tak ada laut. Juga bentangan pantai. Nanti saja, biar orang lain yang buatkan. Tapi, diakhirnya tentu harus dia bubuhkan nama Tuhan.

Karena pandangan adalah jangkar sajak yang membenam. Dan aku pernah benar-benar kau tenggelamkan. Sebagai jangkar dan kau sambungkan pada ingatan. Tapi, kau hanya benang layang-layang tanpa angin. Dan aku tak bisa menerbangkan apa-apa.

Sebelum hari ini, ada sebuah halaman tentang angan dan harapan. Dibawah pohonnya, bocah-bocah bermain masa depan. Tapi disitu, cintaku adalah buah yang busuk. Jatuh tak berbentuk.

Pada dinding rubuhnya, akan kusulam wajahmu. Sementara kita semakin jauh dari segala hal yang bisa ditempuh. Dan sepertinya, kita tidak bisa lebih sepakat tentang itu.

Tenanglah dimeja makanmu, dengan hidangan dan seseorang yang Tuhan kirimkan. Dan aku, dalam cerita ini, barangkali nantinya akan dikabarkan oleh angin atau cuaca buruk dari kumpulan impian-impian yang tak sempat jadi kenyataan.

Kamis, 25 Juni 2015

0 Sedikit Kabar Pagi Ini

Pagi sekali, ia masih terjaga. Seakan
cemas pada cahaya. Yang membelah
pandangannya menjadi dua; waktu yang
bergegas dan usia yang akan lepas
Pikiran buruknya masih berserakan
disekitar alas tidurnya; disekitar kegundahan-
kegundahan. Yang selaksa malam belum
menjawab; rahasia daun yang gugur dan
rantingnya yang hilang
Barangkali, ia telah abai pada
rauangan panjang yang tak terdengar
Jalan hambar sehabis hujan dan seseorang yang
Menghilang dibalik tikungan jalan
Apa yang masih berharga
Dari coretan dikertas buram
Selain kata dan makna yang dicatatnya?
Dan sisa tinta diujung pena yang belajar bicara
Mengapa tak ia coba tinggalkan baris-baris
doa yang gugur dalam pelukan? Ketika ia
rindu kehangatan tuhan? Ketika ia masih percaya
harapan adalah jawaban tanpa bertanya kapan?
Dan di dua ratus angin shubuh yang dingin ini
ia sandingkan sebuah pinta; “Tuhan, jagalah alam
dan beberapa malamku yang kelam.”
 

Fajri Muhammad dan sedikit ke-"lebih"-annya Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates