Sore itu angin masih lembut. Tidak ada sorak sorai anak-anak kecil penduduk sekitar sini yang biasanya berkejar-kejaran satu sama lain. Namun pria itu masih hening dalam tunggunya. Pandangannya pecah dibalik ombak. Tangannya menggenggam erat tangkai-tangkai mawar yang kelopaknya gugur satu persatu dihembus angin. Kelopaknya melayang, jatuh menggulung direbut ombak. "Tahanlah, hei mawar! Utuhlah sampai kau kuberikan padanya!" gumamku. Sesekali berputar nostalgia-nostalgia lama didalam benakku yang resah. Kenangan-kenangan yang dlu terkubur apik tak terjamah, belakangan ini terputar dan terlihat seakan nyata. Ya, wanita itu. Wanita yang mudahnya pergi meninggalkanku ketika aku mengalami titik terendah dalam hidupku. Kurang kejam apa dia sebagai seorang kekasih yang kucintai dengan hati, namun pergi dengan mencabiknya. Tapi kini, aku mungkin dirasuk setan. Alasan aku duduk dan menunggu sendirian dalam sepi, disini, tidak lain dan tidak bukan adalah wanita tersebut. Sekitar tiga minggu yang lalu aku bertemu kembali dengannya disebuah pesta pernikahan teman lama. Disana aku memulai kembali percakapan pertama setelah dua tahun lamanya tidak lagi bertemu. Dia masih saja cantik dan mempesona. Bahkan lebih cantik ketika ia tidak lagi menjadi milikku. Aku dan dia kembali akrab. Sering sms-an dan telfonan jika ada waktu senggang. Aku seperti lupa pada masa lalu. Aku menilai dia sepertinya kembali menyukai aku. Entah karena hidupku yang sudah mapan dan berpenghasilan lumayan.Entahlah.
Seminggu yang lalu dia mengajakku bertemu pada hari yang ditentukannya, hari ini. Ditempat dimana kita sering bersama ketika dulu masih pacaran. Iya, disini tempatnya. Dipantai ini. Maka tidak heran jika aku seperti terbawa kembali ke masa lalu. Seperti melihat kembali dua muda-mudi bergandengan tangan menyisir pantai dengan cinta melingkarinya. "Ah, aku rindu masa itu." pikirku. Di benakku bergantungan jutaan pertanyaan yang menggerayangi setiap sudut otakku. Kenapa ia mengajakku kembali bertemu disini, dipantai ini? Mengapa ia menentukan pertemuan seminggu sebelum harinya? Mengapa ia tidak menghubungiku lagi sejak ia mengajak bertemu waktu itu? Aku bingung. Aku gelisah menunggu jawaban. Dan jawaban yang aku tunggu tidak menunjukkan tanda-tanda hadir ataupun akan hadir disini. Aku pandang lagi mawar yang ku genggam. Kelopaknya makin berkurang. Sabarku juga ikut berkurang. Ini sudah sangat lama bagi seorang wanita seperti dia untuk terlambat pada janji yang dibuatnya sendiri. Apa dia mempermainkanku? Apa dia menganggap aku cuma seorang pria yang gampang diolok-olok karena keluguan atas cintaku kepadanya? Dia salah besar! Aku lempar tangkai-tangkai mawar yang sudah mulai layu itu ke bibir pantai. Biar dihempas dan hilang digulung ombak. Benciku memuncak.
"Git! Gitra!" suara yang cukup familiar bagiku tapi terdengar terengah-engah memburu nafas.
"Hah, Bilal? Kamu ngapain kesini?" jawabku setengah terkejut atas kedatangannya. Bilal adalah teman lamaku. Teman satu SMA ku, dan juga dengan wanita itu.
"Laras git! Laras! Kamu harus ikut denganku sekarang juga!" seraya menarik tanganku dan mengajakku berlari masuk kedalam mobilnya. melihat air mukanya yang panik dan mata sedikit sembab, aku tahu kalau ini bukanlah kabar baik. Sesuatu telah terjadi kepada Laras. Iya, Laras, seseorang yang sedari tadi kusebut dengan sebutan "wanita itu".
Didalam mobil aku lebih memilih diam. Bilal juga diam. Sesekali kulirik Bilal yang pandangannya nanar pada jalan didepan. Tapi aku tidak cukup kuat untuk menahan sabar untuk tidak bertanya, daripada sabar untuk menunggu laras yang sejak tadi kutunggu. Aku ingin memecah keheningan ini.
"Bil, aku tau sesuatu yang buruk telah terjadi. Tapi jangan biarkan aku mereka-reka terlalu jauh yang hal mana aku sendiri tidak tahu dengan pasti. Bil aku mohon, beritahu aku apa yang telah terjadi dengan Laras!" aku berkata sembari memegang lengannya yang bergetar.
"Aku tidak bisa menyampaikannya, git. Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Maaf, aku harap kamu sabar dan lihat sendiri apa yang telah terjadi." Bilal menghela nafasnya karena dia tahu jawabannya barusan tidak sedikitpun memuaskan keingintahuanku. Mobil kembali hening. Pandanganku jauh menembus kaca jendela mobil ini. Bukan, bukan jalanan yang kulihat. Tapi wajah Laras seakan menari mengelilingiku. Dan, airmata berjatuhan.
Sesampainya dirumah Laras, aku melihat keramaian yang berdengung seperti lebah dalam sarang madu. Satu mobil polisi, satu mobil ambulans, dan beberapa warga tampak sibuk mendirikan tenda. Aku berlari menembus mereka. Sendalku putus tersandung ujung pagar yang melintang. Aku celingak celinguk mencari apa yang terjadi. Ya, disana. Diujung ruang tamu tergelatak tubuh kaku Laras tak bernyawa namun masih tampak cantik bagiku. Dia dikelilingi oleh ahli forensik dari kepolisian yang kutahu setelah membaca tulisan dipunggung mereka.
Laras telah bunuh diri. Ia bunuh diri dengan meminum racun serangga yang telah dibawa pihak kepolisian sebagai barang bukti. Aku terhenyak duduk didekat pintu. menerawang jauh membayangkan hal apa yang membuat wanita setegar Laras, memilih jalan seperti ini. Aku berhenti pada satu hal. Masalah ekonomi. Tapi kenapa? Kenapa dia tidak memberitahuku? Aku pasti akan dengan senang hati membantunya. Tapi ini semua sudah terjadi. Dan airmata tak henti-hentinya mengalir.Sejenak aku memandang kembali tubuh kaku yang membujur disana. Kenapa Tuhan memisahkan kita sebelum kita sempat untuk bersatu atas perpisahan yang kau buat dulu? Aku tidak sedikitpun percaya pada orang-orang yang mengatakan bahwa perpisahan mengekalkan keabadian. Kini aku benci kata perpisahan.
Bilal datang, dan ikut duduk menyandar disebelahku. "Git, kenapa kamu menyembunyikannya dariku? Aku temanmu dari SMP, aku sahabatmu. Tapi yasudahlah, semua sudah terjadi. Kamu yang kuat. Mereka pergi karena cintanya kepadamu." ucap Bilal lirih. Aku tersedak dan menatap tajam pada Bilal. "Maksud kamu apa? Mereka? Siapa lagi yang meninggal selain Laras? Bukannya dia bunuh diri sendirian dirumah ini?" tanyaku dengan nada tinggi. Bilal nampak bingung, dan tangannya mencoba menunjuk ambulans yang terparkir diluar. "Yang didalam ambulans itu anakmu, kan?"
Seketika aku berlari menuju mobil putih itu. Otakku serasa meledak karena berfikir. Aku bingung, dan tidak ada satupun penjelasan. Aku melihat kedalam dan dengan refleks mendorong petugas ambulans tersebut. Ada bayi, berumur sekitar satu tahun lebih tergeletak naas dengan wajah telah memutih. Bingung kembali meraja.
"Bapak Gitra?" tanya seorang polisi berbadan tegap, dari baju dinasnya terlihat dia berpangkat perwira.
"Iya, dengan saya sendiri. Ada apa ya pak?" aku coba menjawab dengan tenang walaupun didalam hati gusar karena kebingungan.
"Hanya ini peninggalan terakhir dari almarhumah. Berupa surat dan kami dari pihak kepolisian belum membacanya. Mungkin ditujukan untuk bapak." polisi itu menyerahkan secarik kertas buku tulis yang berisikan tulisan dengan tinta hitam. Aku membukanya dengan tergesa gesa tidak sabar ingin membaca isi dari surat tersebut. Aku seakan melihat jawaban dari semua kebingungan ini.
Gitra, bagaimana keadaan pantai sore ini? Masih indah kan? Masih samakah indahnya seperti dulu? Andai aku bisa menggenggam tanganmu disana dan melihat ombak menggulung pasir, yang seakan marah ditertawai terik matahari sore. Tapi aku tidak berani kesana. Aku tidak berani untuk mengatakannya langsung kepadamu. Aku tidak siap. Aku tidak siap menerima jawaban yang akan kau berikan. Atau mungkin sebuah penolakan. Aku terlalu lemah untuk itu. Ingatkah engkau dua tahun yang lalu ketika aku meninggalkanmu? Aku bertaruh dengan nyawa bahwa yang ada difikiran mu saat itu aku ini wanita kejam. Wanita yang tidak bisa menerima kamu apa adanya. Wanita yang hanya cinta kepada harta. Tidak git, tidak sedikitpun. Tidak pernah ada sisi seperti itu didalam diriku. Aku meninggalkanmu karena memang itu adalah jalan terbaik untukmu. Aku mengandung buah dari hasil cinta kita. Yang selalu ingin aku utarakan setiap kali kita bertemu. Tapi niat itu selalu terbenam jauh didalam palung hatiku setiap aku mendengar keluh kesahmu tentang susahnya mencari pekerjaan. Aku memilih diam, dan mencoba meredam keputus-asaanmu. Aku tidak ingin menyampaikan kabar yang pastinya akan menjadi beban besar dalam hidupmu. Yang akan menambah bebanmu semakin berat dan mungkin tidak akan sanggup lagi kamu pikul.
Aku sayang padamu. Meninggalkanmu dan membawa masalah ini sendiri adalah jalan yang terbaik. Terbaik untukmu. Anak laki-laki kita lahir dengan sehat satu tahun dua bulan yang lalu dan kuberi nama Ilham yang semoga kelak bisa menjadi ilham bagi semua orang. Aku tidak pernah menyesali kehadiran Ilham dihidupku. Mengasuh dan membesarkannya kuanggap sebagai ibadah. Segala cara aku lakukan agar dia bisa bertahan hidup. Dan bisa merasakan masa kecil seperti anak-anak lainnya. Tapi semua berubah sejak kita bertemu kembali di pesta itu. Masa lalu kembali membayang. Disamping itu aku bahagia melihat perubahan pada hidupmu. Kamu telah mendapatkan pekerjaan. Dan pendamping yang sempurna. Aku tahu itu dari cincin yang dipakai dari jari manisnya. Dan pada hari ini, sebenarnya aku ingin memberitahukan perihal Ilham kepadamu. Tetapi aku takut. Aku tidak mau merusak kebahagiaanmu. Aku sudah lelah Git, aku tidak tahu harus bagaimana. Dan ini jalan terbaik yang aku pilih. Dan memang satu-satunya jalan yang ada. Ingatlah satu hal, Gitra Maulana. Kami pergi karena cinta yang begitu besar kepadamu. Jangan pernah menyesali diri. Aku sayang keapadamu. Sangat sayang.
Seketika bumi-ku runtuh, sekelilingku terasa hening, kakiku bergetar hebat dan serasa terpaku kedalam tanah. Aku dihantam oleh sebuah pilu yang teramat berat. Airmataku mengalir deras diiringi nestapa. Kamu salah Laras. Dia bukan pendampingku. Dia adalah teman kerjaku dan dia memang sudah berkeluarga, tapi bukan denganku. Kenapa kamu tidak pernah mempertanyakan hal itu kepadaku. Kenapa aku terlalu bodoh untuk selalu menunda memintamu kembali bersamaku. Kenapa Tuhan begitu sangat kejam membiarkan hal ini terjadi begitu saja. Aku manusia yang tidak berarti. Aku salah besar. Aku tidak berguna. Aku memandang lirih kebawah. Tampak ujung jariku mengeluarkan darah karena tersandung pagar. Tidak jauh dari sana aku mendengar suara kereta api melintas. Aku tersenyum. Iya, memang benar perpisahan mengekalkan keabadian, tapi jika kita ikut dalam perpisahan itu. Ucapku sembari berlari menuju sumber suara kereta yang melintas. Laras, Ilham, tenang saja, kita akan bersama. Disana, bukan didunia ini. Cinta kita akan abadi.
Seminggu yang lalu dia mengajakku bertemu pada hari yang ditentukannya, hari ini. Ditempat dimana kita sering bersama ketika dulu masih pacaran. Iya, disini tempatnya. Dipantai ini. Maka tidak heran jika aku seperti terbawa kembali ke masa lalu. Seperti melihat kembali dua muda-mudi bergandengan tangan menyisir pantai dengan cinta melingkarinya. "Ah, aku rindu masa itu." pikirku. Di benakku bergantungan jutaan pertanyaan yang menggerayangi setiap sudut otakku. Kenapa ia mengajakku kembali bertemu disini, dipantai ini? Mengapa ia menentukan pertemuan seminggu sebelum harinya? Mengapa ia tidak menghubungiku lagi sejak ia mengajak bertemu waktu itu? Aku bingung. Aku gelisah menunggu jawaban. Dan jawaban yang aku tunggu tidak menunjukkan tanda-tanda hadir ataupun akan hadir disini. Aku pandang lagi mawar yang ku genggam. Kelopaknya makin berkurang. Sabarku juga ikut berkurang. Ini sudah sangat lama bagi seorang wanita seperti dia untuk terlambat pada janji yang dibuatnya sendiri. Apa dia mempermainkanku? Apa dia menganggap aku cuma seorang pria yang gampang diolok-olok karena keluguan atas cintaku kepadanya? Dia salah besar! Aku lempar tangkai-tangkai mawar yang sudah mulai layu itu ke bibir pantai. Biar dihempas dan hilang digulung ombak. Benciku memuncak.
"Git! Gitra!" suara yang cukup familiar bagiku tapi terdengar terengah-engah memburu nafas.
"Hah, Bilal? Kamu ngapain kesini?" jawabku setengah terkejut atas kedatangannya. Bilal adalah teman lamaku. Teman satu SMA ku, dan juga dengan wanita itu.
"Laras git! Laras! Kamu harus ikut denganku sekarang juga!" seraya menarik tanganku dan mengajakku berlari masuk kedalam mobilnya. melihat air mukanya yang panik dan mata sedikit sembab, aku tahu kalau ini bukanlah kabar baik. Sesuatu telah terjadi kepada Laras. Iya, Laras, seseorang yang sedari tadi kusebut dengan sebutan "wanita itu".
Didalam mobil aku lebih memilih diam. Bilal juga diam. Sesekali kulirik Bilal yang pandangannya nanar pada jalan didepan. Tapi aku tidak cukup kuat untuk menahan sabar untuk tidak bertanya, daripada sabar untuk menunggu laras yang sejak tadi kutunggu. Aku ingin memecah keheningan ini.
"Bil, aku tau sesuatu yang buruk telah terjadi. Tapi jangan biarkan aku mereka-reka terlalu jauh yang hal mana aku sendiri tidak tahu dengan pasti. Bil aku mohon, beritahu aku apa yang telah terjadi dengan Laras!" aku berkata sembari memegang lengannya yang bergetar.
"Aku tidak bisa menyampaikannya, git. Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Maaf, aku harap kamu sabar dan lihat sendiri apa yang telah terjadi." Bilal menghela nafasnya karena dia tahu jawabannya barusan tidak sedikitpun memuaskan keingintahuanku. Mobil kembali hening. Pandanganku jauh menembus kaca jendela mobil ini. Bukan, bukan jalanan yang kulihat. Tapi wajah Laras seakan menari mengelilingiku. Dan, airmata berjatuhan.
Sesampainya dirumah Laras, aku melihat keramaian yang berdengung seperti lebah dalam sarang madu. Satu mobil polisi, satu mobil ambulans, dan beberapa warga tampak sibuk mendirikan tenda. Aku berlari menembus mereka. Sendalku putus tersandung ujung pagar yang melintang. Aku celingak celinguk mencari apa yang terjadi. Ya, disana. Diujung ruang tamu tergelatak tubuh kaku Laras tak bernyawa namun masih tampak cantik bagiku. Dia dikelilingi oleh ahli forensik dari kepolisian yang kutahu setelah membaca tulisan dipunggung mereka.
Laras telah bunuh diri. Ia bunuh diri dengan meminum racun serangga yang telah dibawa pihak kepolisian sebagai barang bukti. Aku terhenyak duduk didekat pintu. menerawang jauh membayangkan hal apa yang membuat wanita setegar Laras, memilih jalan seperti ini. Aku berhenti pada satu hal. Masalah ekonomi. Tapi kenapa? Kenapa dia tidak memberitahuku? Aku pasti akan dengan senang hati membantunya. Tapi ini semua sudah terjadi. Dan airmata tak henti-hentinya mengalir.Sejenak aku memandang kembali tubuh kaku yang membujur disana. Kenapa Tuhan memisahkan kita sebelum kita sempat untuk bersatu atas perpisahan yang kau buat dulu? Aku tidak sedikitpun percaya pada orang-orang yang mengatakan bahwa perpisahan mengekalkan keabadian. Kini aku benci kata perpisahan.
Bilal datang, dan ikut duduk menyandar disebelahku. "Git, kenapa kamu menyembunyikannya dariku? Aku temanmu dari SMP, aku sahabatmu. Tapi yasudahlah, semua sudah terjadi. Kamu yang kuat. Mereka pergi karena cintanya kepadamu." ucap Bilal lirih. Aku tersedak dan menatap tajam pada Bilal. "Maksud kamu apa? Mereka? Siapa lagi yang meninggal selain Laras? Bukannya dia bunuh diri sendirian dirumah ini?" tanyaku dengan nada tinggi. Bilal nampak bingung, dan tangannya mencoba menunjuk ambulans yang terparkir diluar. "Yang didalam ambulans itu anakmu, kan?"
Seketika aku berlari menuju mobil putih itu. Otakku serasa meledak karena berfikir. Aku bingung, dan tidak ada satupun penjelasan. Aku melihat kedalam dan dengan refleks mendorong petugas ambulans tersebut. Ada bayi, berumur sekitar satu tahun lebih tergeletak naas dengan wajah telah memutih. Bingung kembali meraja.
"Bapak Gitra?" tanya seorang polisi berbadan tegap, dari baju dinasnya terlihat dia berpangkat perwira.
"Iya, dengan saya sendiri. Ada apa ya pak?" aku coba menjawab dengan tenang walaupun didalam hati gusar karena kebingungan.
"Hanya ini peninggalan terakhir dari almarhumah. Berupa surat dan kami dari pihak kepolisian belum membacanya. Mungkin ditujukan untuk bapak." polisi itu menyerahkan secarik kertas buku tulis yang berisikan tulisan dengan tinta hitam. Aku membukanya dengan tergesa gesa tidak sabar ingin membaca isi dari surat tersebut. Aku seakan melihat jawaban dari semua kebingungan ini.
Gitra, bagaimana keadaan pantai sore ini? Masih indah kan? Masih samakah indahnya seperti dulu? Andai aku bisa menggenggam tanganmu disana dan melihat ombak menggulung pasir, yang seakan marah ditertawai terik matahari sore. Tapi aku tidak berani kesana. Aku tidak berani untuk mengatakannya langsung kepadamu. Aku tidak siap. Aku tidak siap menerima jawaban yang akan kau berikan. Atau mungkin sebuah penolakan. Aku terlalu lemah untuk itu. Ingatkah engkau dua tahun yang lalu ketika aku meninggalkanmu? Aku bertaruh dengan nyawa bahwa yang ada difikiran mu saat itu aku ini wanita kejam. Wanita yang tidak bisa menerima kamu apa adanya. Wanita yang hanya cinta kepada harta. Tidak git, tidak sedikitpun. Tidak pernah ada sisi seperti itu didalam diriku. Aku meninggalkanmu karena memang itu adalah jalan terbaik untukmu. Aku mengandung buah dari hasil cinta kita. Yang selalu ingin aku utarakan setiap kali kita bertemu. Tapi niat itu selalu terbenam jauh didalam palung hatiku setiap aku mendengar keluh kesahmu tentang susahnya mencari pekerjaan. Aku memilih diam, dan mencoba meredam keputus-asaanmu. Aku tidak ingin menyampaikan kabar yang pastinya akan menjadi beban besar dalam hidupmu. Yang akan menambah bebanmu semakin berat dan mungkin tidak akan sanggup lagi kamu pikul.
Aku sayang padamu. Meninggalkanmu dan membawa masalah ini sendiri adalah jalan yang terbaik. Terbaik untukmu. Anak laki-laki kita lahir dengan sehat satu tahun dua bulan yang lalu dan kuberi nama Ilham yang semoga kelak bisa menjadi ilham bagi semua orang. Aku tidak pernah menyesali kehadiran Ilham dihidupku. Mengasuh dan membesarkannya kuanggap sebagai ibadah. Segala cara aku lakukan agar dia bisa bertahan hidup. Dan bisa merasakan masa kecil seperti anak-anak lainnya. Tapi semua berubah sejak kita bertemu kembali di pesta itu. Masa lalu kembali membayang. Disamping itu aku bahagia melihat perubahan pada hidupmu. Kamu telah mendapatkan pekerjaan. Dan pendamping yang sempurna. Aku tahu itu dari cincin yang dipakai dari jari manisnya. Dan pada hari ini, sebenarnya aku ingin memberitahukan perihal Ilham kepadamu. Tetapi aku takut. Aku tidak mau merusak kebahagiaanmu. Aku sudah lelah Git, aku tidak tahu harus bagaimana. Dan ini jalan terbaik yang aku pilih. Dan memang satu-satunya jalan yang ada. Ingatlah satu hal, Gitra Maulana. Kami pergi karena cinta yang begitu besar kepadamu. Jangan pernah menyesali diri. Aku sayang keapadamu. Sangat sayang.
Seketika bumi-ku runtuh, sekelilingku terasa hening, kakiku bergetar hebat dan serasa terpaku kedalam tanah. Aku dihantam oleh sebuah pilu yang teramat berat. Airmataku mengalir deras diiringi nestapa. Kamu salah Laras. Dia bukan pendampingku. Dia adalah teman kerjaku dan dia memang sudah berkeluarga, tapi bukan denganku. Kenapa kamu tidak pernah mempertanyakan hal itu kepadaku. Kenapa aku terlalu bodoh untuk selalu menunda memintamu kembali bersamaku. Kenapa Tuhan begitu sangat kejam membiarkan hal ini terjadi begitu saja. Aku manusia yang tidak berarti. Aku salah besar. Aku tidak berguna. Aku memandang lirih kebawah. Tampak ujung jariku mengeluarkan darah karena tersandung pagar. Tidak jauh dari sana aku mendengar suara kereta api melintas. Aku tersenyum. Iya, memang benar perpisahan mengekalkan keabadian, tapi jika kita ikut dalam perpisahan itu. Ucapku sembari berlari menuju sumber suara kereta yang melintas. Laras, Ilham, tenang saja, kita akan bersama. Disana, bukan didunia ini. Cinta kita akan abadi.
