Dan di sore tempo hari, aku pun belajar mengingat.
Lewat mata yang kuhapal benar di entah kapan.
Lewat tawa dan senyum yang kacau dimain kata.
Aku membiarkanmu melihatku, berulang kali
dengan raut wajah tapi bukan raut wajah itu.
Aku gugup mengingatmu. Di nadiku, di aortaku,
burung kolik membikin sarang dari beragam tipuan
tentang hari lalu.
yang kerap membawakan sisa hujan yang jatuh perlahan:
"aku kumpulkan ini dari tiap kenangan yang dikembalikan
pada rentang lengan."
Perlahan seluruh ingatanku dihinggapi lumut, dimakan cuaca
bau lembab, serta sebuah harap kau masih sanggup marah
ketika tak henti kuhisap rokokku.
Dan didadaku bergetar dua lagu: sebuah kutitipkan dibibirmu
dan sisanya kukecupkan dikeningmu.
Dikepalaku, dibenakku mengalir anak-anak sungai, ikan-ikan
berenang dipatahan laju air. Dan para serdadu-serdadu
berbaris dari beirut menuju petra. Dan kau masih disisiku
sayangku, dibawah beringin--dengan sebuah bangku panjang kayu
juga langit jingga yang membawa kita kesana.
Kita pun belajar mengingat,
lewat kata yang menenggelamkan sebuah cerita:
entah dipertemuan kita yang keberapa.

0 komentar:
Posting Komentar