Rabu, 20 Agustus 2014

0 Ani Ohev Otach, Masha

-untuk seseorang yang bernama seperti itu

Dan di sore tempo hari, aku pun belajar mengingat.
Lewat mata yang kuhapal benar di entah kapan.
Lewat tawa dan senyum yang kacau dimain kata.

Aku membiarkanmu melihatku, berulang kali
dengan raut wajah tapi bukan raut wajah itu.
Aku gugup mengingatmu. Di nadiku, di aortaku,
burung kolik membikin sarang dari beragam tipuan
tentang hari lalu.
yang kerap membawakan sisa hujan yang jatuh perlahan:
"aku kumpulkan ini dari tiap kenangan yang dikembalikan
pada rentang lengan."

Perlahan seluruh ingatanku dihinggapi lumut, dimakan cuaca
bau lembab, serta sebuah harap kau masih sanggup marah
ketika tak henti kuhisap rokokku.
Dan didadaku bergetar dua lagu: sebuah kutitipkan dibibirmu
dan sisanya kukecupkan dikeningmu.

Dikepalaku, dibenakku mengalir anak-anak sungai, ikan-ikan
berenang dipatahan laju air. Dan para serdadu-serdadu
berbaris dari beirut menuju petra. Dan kau masih disisiku
sayangku, dibawah beringin--dengan sebuah bangku panjang kayu
juga langit jingga yang membawa kita kesana.

Kita pun belajar mengingat,
lewat kata yang menenggelamkan sebuah cerita:
entah dipertemuan kita yang keberapa.

Selasa, 19 Agustus 2014

0 Sebuah Cara Menulis Sajak Cinta Kepada Engkau Putri Raja

Jika saja aku ini seorang sultan, maka ini
hanyalah sebuah cara menulis sajak cinta kepada
engkau, putri raja.

Akan kutulis dikertas-kertas tipisnya akan gunung
yang dipunggungi mentari serta merta pada camar bersayap
sepuluh senti. Tentang sebuah laut yang jauh, sebuah laut
didalam nadimu, dan membayangkan bagaimana debur ombak
yang dalam kesendiriannya menertawakan kita.

Akan kutulis bagaimana singgasana kubangun dipunggung-
punggung para pekerja yang didarahnya berceceran
kata-kataku padamu yang tersusun menjadi doa tentang
masa depan kita yang belum ada.

Dan juga akan kutulis tentang jauhnya pula rindu yang
diantara kita dan terutama pada kau yang benci pada
rindu yang mengingatkan kita tentang desir angin diluar
rumah yang sedikit ramah membiarkan kita berdua disofa.

Dan yang tak terlupa akan kutulis betapa indah matamu
yang menatap ku lekat-lekat yang padanya aku melihat
samudera biru pekat. Dan tentang betapa aku tak pernah
sempat mengatakan betapa kau begitu memikat.

Serta walaupun susah akan kutulis juga betapa aku benci
pada kenangan yang sehabis darah tak mampu aku hidupkan.

Jika saja aku ini memang seorang sultan, dan engkau
memang putri raja. Tentu saja sajak ini bukan sajak
yang ditulis fajri untuk masha.
 

Fajri Muhammad dan sedikit ke-"lebih"-annya Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates